Tarbiyah

Beautiful moment in my life

Maulid Nabi Muhammad SAW

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab:21)

Copy paste from : 1, 2, 3, 4

===============================================================

source picture

Sejarah Maulid

Bulan Rabi’ul Awwal, masyarakat muslim familiar menyebut dengan istilah Bulan Maulid. Tepat tanggal 12 Rabi’ul Awwal, ‘Am Fiil atau Tahun Gajah, lahirlah Nabi pembawa petunjuk, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthallib, semoga shalawat dan keselamatan tercurah atas beliau dan keluarganya.
Banyak negeri kaum muslimin yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw., tak terkecuali di Indonesia.

Sejarah perayaan maulid Nabi Muhammad saw. dimulai sejak zaman kekhalifahan Fatimid (keturunan dari Fatimah Az-Zahrah, putri Nabi Muhammad saw.). Shalahuddin Al-Ayyubi (1137 M – 1193 M), panglima perang waktu itu, mengusulkan kepada khalifah agar mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Tujuannya untuk mengembalikan semangat juang kaum muslimin dalam perjuangan membebaskan Masjid Al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Salibis. Hasilnya? Semangat jihad umat Islam menggelora. Di tahun 1187 M, Shalahuddin sendiri yang membawa pasukannya masuk kota Yerusalem dan membebaskan Al-Aqsha dari cengkraman musuh-musuh Allah.

Kita tidak ingin mempertentangkan antara kelompok yang mengatakan peringatan maulid adalah ritual yang mesti dijalankan, dengan kelompok lain yang menganggap peringatan maulid sebagai perbuatan yang mengada-ada atau bid’ah, karena tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah, sahabat, tabi’in, ataupun tabi’it tabi’in.

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional menyatakan bahwa anggapan merayakan maulid Nabi saw. adalah bid’ah, dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka, tidak semuanya benar.

Beliau meluruskan, yang kita ingkari dalam hal perayaan maulid adalah ketika ada pencampuradukkan dengan kemungkaran, ketika perayaan maulid itu bercampur-aduk dengan hal-hal yang menyalahi syari’at, ketika perayaan maulid itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an, sebagaimana praktek-praktek ini masih ada di sebagian negara Islam.

Contohnya, praktek syirik, dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan bid’ah?

Pernyataan beliau yang dimuat dalam media online pribadi beliau itu juga ditambahkan:

“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Terlepas dari dua pendapat di atas, yang lebih penting untuk kita renungkan adalah bagaimana umat Islam dewasa ini bisa meneladani Nabinya dalam kehidupan. Atau pertanyaannya: adakah karakter umat Muhammad sudah dimiliki oleh kita yang mengaku umatnya? Apakah dengan kondisi yang seperti sekarang ini kita yakin kelak akan diakui oleh Beliau sebagai umatnya yang berhak mendapat syafa’atnya?

Sudahkah sifat-sifat yang tersurat dalam ayat 29 surat Fath sudah menjadi karakter diri kita?

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Fath:29)

 

Karakter Umat Muhammad

Pertama, keras dan tegas terhadap orang-orang kafir (asyiddau ’alal kuffar).

Perlu kita dudukkan dengan jernih tentang klasifikasi orang kafir. Dalam pandangan Islam orang kafir ada dua macam. Pertama, kafir harbi, yaitu orang kafir yang memusuhi dan memerangi ummat Islam. Kelompok pertama ini wajib diperangi. Kedua, kafir zhimmi, yaitu orang kafir yang terikat janji perdamaian dan hidup bersanding dengan umat Islam dengan damai. Mereka ini harus dilindungi.

Keras dan tegas di sini ditujukan kepada orang kafir yang memusuhi dan memerangi Umat Islam. Sikap keras dan tegas juga ditujukan terhadap ajaran, budaya, dan pemikiran mereka. Maklum, dewasa ini tak sedikit umat Islam bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir, namun bermesraan dengan ajarannya.

Dulu kita bangga dengan jumlah umat Islam Indonesia 99%. Namun jumlah itu terus berkurang dan berkurang. Sekarang tercatat tinggal 87%. Itu pun jumlah secara kuantitas. Entah berapa persen jumlah umat Islam dari sisi kualitas. Penurunan jumlah itu dikarenakan umat tidak sadar bahwa mereka digempur ghazful fikri atau perang budaya. Padahal invasi pemikiran justru akibatnya sangat berbahaya. Sebab, ini perang dimana yang diperangi tidak merasa diperangi.

Ada contoh lain. Sebagian umat Islam, apakah itu akademisi atau pelaku kebijakan publik, merasa lebih bangga ketika merujuk pada referensi orang kafir. Padahal, itu justru menjerumuskan umat Islam ke dalam jurang kehancuran. Fakta kehancuran ekonomi umat Islam akibat mengadopsi sistem ekonomi ribawi milik kaum kapitalis sudah terjadi. Kekisruhan sosial akibat penerapan sistem politik sekular yang memisahkan agama dan negara juga telah melahirkan pemimpin-pemimpin tak bermoral yang tak pantas menjadi pemimpin yang diikuti.

Kondisi seperti itulah yang menjadikan umat lain bersorak sorai. Tujuan mereka tercapai. Umat Islam telah jauh dari ajarannya. Kata Samuel Zwimmer, ”Kalian tidak perlu capek-capek mengeluarkan ummat Islam dari agamanya dan pindah ke agama kita. Cukuplah kalian jauhkan umat Islam dari ajaran agamanya sehingga mereka tidak lagi bangga dengan agamanya.”

Karakter kedua, berkasih sayang terhadap sesama umat Islam (ruhama’u bainal muslimin).

Setiap yang bersyahadat laa ilaaha illallah wa muhammad rasulullah adalah saudara. Persaudaraan Islam ini tidak dibatasi oleh perbedaan letak teritorial, bahasa, suku, kelompok, partai, golongan, atau madzhab. Allah swt. Berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Perumpamaan seorang muslim satu dengan yang lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan yang saling menguatkan. Oleh karena itu, sesama muslim wajib saling asah, asih, asuh. Saling menyayangi, mencintai, melindungi, menutupi aib, tidak menghina, mencemooh, memfitnah, apalagi menumpahkan darah sesamanya. Rasulullah saw bersabda, ”Janganlah kalian saling mendengki, membenci, memutus persaudaraan. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Shahih Bukhari, Bab Haramnya Hasud, Jilid 12, Hal. 415).

Umat Islam di manapun berada berhajat untuk bersatu dan saling mendukung. Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengingatkan kita, ”Jangan sampai berbedaan madzhab atau kelompok menjadikan umat Islam terpecah belah menjadi umat sunni atau umat syi’i, misalkan. Bukankah Allah swt. memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah?” Beliau menambahkan, Kalau kita sekarang sebagai umat Islam terus membangun komunikasi dengan umat lain, mengapa kita tidak membangun komunikasi di antara internal umat Islam?” (Majalah Al Mujtama’ edisi Februari 2007).

Saling berkasih sayang dan menjaga persatuan di antara elemen umat Islam tidaklah menjadi slogan semata. Itu harus diperjuangkan agar menjadi wujud dalam kehidupan umat Islam.

Karakter ketiga, senantiasa rukuk dan sujud (rukka’an sujjada).

Umat Muhammad senantiasa menjaga shalat dengan baik. Menunaikannya dengan khusyu’. Menghayati maknanya. Mereka melaksanakannya sesuai rukun dan syaratnya. Dikerjakan di awal waktu dengan berjama’ah. Seluruh anggota badan mereka ikut serta shalat: kalbu, pikiran, tangan, kaki, mata dan telinga serta anggota badan yang lain bersujud dihadapan Allah swt. Dengan demikian ia akan terjaga dari kemaksiatan dan kemungkaran di luar shalat. Bagaimana mungkin kalbu akan mendengki terhadap sesama, padahal sebelumnya bersujud. Bagaimana mungkin pikiran terbersit hal yang kotor, padahal sebelumnya bersujud. Bagaimana mungkin tangan mengambil hak orang lain atau melakukan korupsi, padahal sebelumnya bersujud. Kaki, mata, telinga, dan anggota badan yang lain juga demikian.

Itulah rahasia firman Allah swt, ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut: 45).

Shalat yang benar juga akan tercermin dari perilaku sosial pelakunya, yaitu terlihat dari sejauh mana kepedulian terhadap sesama dan memberikan manfaat untuk orang lain.

Karakter keempat, senantiasa mengharap ridha Allah swt.

Orientasi hidup umat Muhammad adalah untuk Allah swt. semata. Ia paham betul fungsi ia dihidupkan di muka bumi, adalah untuk pengabdian total kepada Tuhan semesta alam. Ia siap diperintah dengan aturan Allah swt. Ia rela meninggalkan yang dilarang karena Allah swt. semata. Bahkan, sikap ia yang keras terhadap orang kafir, atau berkasih sayang terhadap sesama muslim, atau tunduk patuh sujud, adalah karena dilandasi mencari keridhaan Allah swt.

Dalam arti kata, kita membenci seseorang karena Allah swt. Kita berkasih sayang dengan sesama muslim karena dipadukan cinta kepada Allah swt. Sebab, boleh jadi kendala persaudaraan Islam adalah karena adanya kepentingan dunia: keinginan jabatan atau karena sekedar beda kelompok. Yang bisa menyatukan langkah dan persatuan umat Islam adalah tujuan untuk menggapai ridho Allah swt.

Dalam dzikir al ma’tsurat yang diajarkan Rasulullah saw. sering kita lantunkan: ”Saya ridha Allah sebagai Tuhan-ku, Islam sebagai agama-ku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-ku.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi. Hadits shahih).

Karakter kelima, disegani teman dan ditakuti lawan.

Karakter umat Muhammad adalah sejuk dipandang, kuat berwibawa, laksana pohon rindang nan banyak buahnya. Sekaligus ditakuti oleh lawan-lawannya.

Oleh karena itu umat Islam seharusnya kuat dalam segala hal: kuat dalam komitmen terhadap agamanya, kuat pendukungnya, kuat dalam percaturan kehidupan dalam segala dimensinya.

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).” (Al Fath: 29).

Itulah karakteristik umat Muhammad. Dan peringatan maulid yang dilaksanakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia mestinya tidaklah sekadar tradisi tahunan tanpa ruh dan jiwa. Namun momentum maulid bisa dijadikan sebagai tonggak untuk meneladani Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupan. Juga semangat peningkatan umat Islam untuk memiliki dan menjaga karakter umat Muhammad agar kita di yaumil qiyamah kelak diakui Beliau sebagai umatnya. Hanya dengan begitu kita berhak mendapat syafa’atnya. Insya Allah!

Selain itu yang penting dalam memperingati datangnya Nabi akhir zaman, penutup segala nabi adalah;
1. Cinta kepada Nabi SAW,
2. Ketaatan kepada Nabi SAW,
3. Meniru akhlak Nabi SAW,
4. Kembali kepada syariahnya,
5. Berdakwah kepada agama yang dibawanya,
6. Membantu agama, syariah dan kerja amal keatas aplikasinya,
7. Memperbanyakkan selawat keatasnya dan khususnya di hari Jumaat,
8. Cinta kepada ahli keluarga Nabi SAW.

Adab Makan Rasulullah

sumber

Mencari-cari bagaimana kiat Rasulullah untuk sehat, terutama bagaimana beliau menjaga adab makannya. Mudah-mudahan kita sebagai umat Islam bisa mencontoh adab makan Rasulullah dengan baik. sehingga kesehatan kita dapat juga terjaga dengan baik.

Adab Rasulullah dalam memakan sesuatu :

  1. Rasulullah tidak minum susu sewaktu  makan ikan, daging atau ayam. Baginda pernah melarang para sahabat dan umat manusia untuk makan ikan bersama susu karena akan menyebabkan yang memakannya mudah mendapat penyakit.
  2. Rasulullah tidak memakan daging yang berasal dari laut dan dari darat secara bersamaan. Contohnya jika seseorang yang memakan nasi berlaukkan sup daging sapi, maka dia tidak dianjurkan untuk makan makanan laut seperti udang, ikan atau cumi. Walau bagaimanapun, percampuran makanan ini ( antara makanan darat dan makanan laut ) tidaklah dianggap haram cuma ini bisa membahayakan kesehatan. (Para saintis juga telah membuat kajian dan menemukan bahwa dalam makanan darat mempunyai ion positif manakala dalam makanan laut mempunyai ion negative. Jika kedua-dua jenis makanan ini bercampur makan akan terjadinya tindak balas biokimia yang aktif dalam tubuh sekaligus mampu menyebabkan perut dan usus menjadi rusak.
  3. Rasulullah melarang meminum susu bersama cuka.
  4. Jangan makan buah bersama susu atau dalam arti kata lain – cock tail. Namun, para saintis telah menemukan bahwa adalah baik untuk menikmati khasiat susu bersama jus buah berkultur (yoghourt)  karena jus susu kultur baik untuk memperbaiki ketidaknyamanan dan masalah pencernaan. Namun, pengguna perlu memilih jenis susu kultur yang kurang kadar keasamannya. karena keasaman bisa mengikis perut melalui tahap keasidannya lama kelamaan bisa mnyebabkan penyakit maag.
  5. Rasulullah tidak makan ikan bersama daun salad.
  6. Rasulullah tidak makan ikan bersama  telur.
  7. Rasulullah tidak memakan buah-buahan setelah memakan gandum, roti atau makanan berat sebaliknya Rasulullah memakan buah-buahan sebelum makan makanan berat seperti gandum atau roti.
  8. Rasulullah akan tidur sebentar setelah makan siang sebelum masuk waktu Zuhur.
  9. Rasulullah melarang umatnya untuk meninggalkan MAKAN MALAM. Barangsiapa yang meninggalkan makan malam. Dia akan dimakan usia dan tahap kolestrol dalam darah akan meningkat. Makan malam adalah sebelum Magrib.
  10. Nabi juga mengajar supaya manusia meminum air dengan meneguk secara perlahan-lahan. Nabi melarang kita untuk bernafas (membuihkan air) dalam air yang sedang diminum.

Rasulullah SAW mengajarkan etika makan kepada ummatnya. Di antara hal-hal yang beliau ajarkan adalah :

  1. Tidak mencela makanan yang tidak di sukai
  2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
  3. Membaca basmalah dan berdo’a
  4. Makan menggunakan tangan kanan
  5. Tidak bersandar ketika makan
  6. Memakan makanan yang terdekat
  7. Memulai makan dari pinggir dan bukan dari tengah
  8. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang
  9. Menyuci tangan bagi yang makan tanpa sendok/garpu
  10. Membersihkan piring dan membuang kotoran dari makanan yang terjatuh lalu memakannya
  11. Tidak memperlihatkan rasa jijik terhadap makanan yang tidak biasa dimakan atau tidak disukai
  12. Makan dan minum sambil duduk
  13. Tidak bernafas ketika minum dan menjauhkan mulut dari tempat minum ketika bernafas
  14. Tidak berprasangka buruk jika makan ditemani orang yang berpenyakit
  15. Tidak duduk pada meja yang dihidangkan makanan haram
  16. Mendahulukan orang yang dikanan
  17. Pemberi minuman yang paling akhir minum
  18. Mendoakan shahibul bait (yang mengundang makan)
  19. Menutup tempat makan dan minum

Buah Kesabaran

sumber tulisan

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran…
ayah anak“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk
mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan
menyontek …aku mau menyontek saja!

aku capek. sangat capek… aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! …

aku capek, sangat capek … aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung …aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku …

aku capek ayah, aku capek menahan diri …aku ingin seperti mereka…mereka
terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! .. ” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”,

lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang …

lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang … aku benci jalan ini ayah”

… sang ayah hanya diam.

Source picture

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya
sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan
yang rindang …
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!”

sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

source picture

“ Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu
indah …?”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu ”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? “

” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi … bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga …

dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang  sangatt indah..

seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku ”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di  sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi … ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri … maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri … dengan terus bersyukur kepada Tuhan… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang … maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya
INGAT2.. SURGA TIDAK MAU DITEMPATI OLEH ORANG2 YG BIASA2 AJA… MELAINKAN SURGA ADALAH TEMPAT UNTUK ORG YG ISTIMEWA WALAU TERASINGKAN DI DUNIA INI

******copas for cttan seorang akhi

*renungan*

SUBHANALLOH … !!!
berita gembira bg org2 beriman :)

Syurga memiliki berbagai kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Rasulullah bersabda, “Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (HR Muslim)…

Sementara jutaan Malaikat dengan penuh rasa takut dan hormat sedang bersujud kepada Allah, dan sementara Malaikat peniup Sangkakala sudah siap di depan trompetnya sejak alam ini diciptakan, sementara itu pula masih banyak diantara kita yang masih terlena dengan dunia ini. Tidak sadar KiTa bahwa diri ini sedang masuk dalam program penerimaan lowongan yang ada di akhirat…SURGA / NERAKA ???????

“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].

Sejatinya, pemenang adalah yang bertahan hingga akhir! Mereka yang bersemangat di awal dan terus berjuang dengan penuh kesabaran hingga tetes darah penghabisan. Itulah sang pemenang sejati. Istiqomah di jalan yang penuh onak duri tanpa pernah melangkah mundur walau selangkah, berjuang berpeluh berkorban jiwa raga dan harta. Jalan dakwah tdk dihampiri permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan siraman minyak kasturi. Sebaliknya jalan dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yg stiap saat dpt meledak, kemudian jalan berliku penuh tikungan maut sementara jurang2 curam menganga. Hanya orang2 istiqamah, pantang menyerah, dan pemberani lah yang mampu bertahan hingga akhir. Pilihannya hanya 2, kemenangan mulia atas tegaknya Islam di muka bumi atau mati sebagai syuhada. Adakah kita mampu menjadi sang pemenang sejati ??

Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’).”(hadits shahih riwayat Muslim)

“Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”(hadits shahih riwayat Ahmad)

“Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak.”(hadits shahih riwayat Abu Amr Ad Dani dan Al Ajurry)

 

Selembar Bulu Mata

sumber tulisan :  klik disini

 

Oleh: KH. Abdurrahman Arroisi
Konon di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah.

“Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”
“Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat.

Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yg kau maksudkan?”

“Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu.”

“Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.

Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yg memandangi.”
Disusul oleh telinga, “Saya yg mendengarkan.”
Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.”
Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”
Lidah menambah, “Saya yang mengisap.”
Tangan meneruskan, “Saya yang meraba dan meremas.”
Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”

“Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu”, ucap malaikat. Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam neraka jahanam.

Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yg amat lembut dari selembar bulu matanya:

“Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”
“Silakan”, kata malaikat.
“Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yg terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”

Konon, dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga.
Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni surga:
“Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”

Sumber: www.mimbarjumat.co

Amniah

Kata amniah berasal dari amaanah. Sedangkan kata amaanah akar katanya adalah amuna-ya’munu-amaanah yang berarti ‘kepercayaan’, ‘lurus’, ‘jujur’, ‘setia’, dsb. Berdasarkan dari bentuk katanya (amniah), kata ini merupakan bentuk isim nisbah yang dalam padanan bahasa Indonesianya menjadi ‘(sesuatu yang bersifat) amanah/dapat dipercaya’.

Picture : click here

Hakikat amniah— secara ringkas ada 3 point penting, antara lain;

  1. amaanah (keterpercayaan). Segala sesuatu yang diberikan ke kita itu adalah amanah. Harta, usia, kesehatan, keluarga, agama, alam semesta, dsb adalah amanah. Kita dipercayakan oleh Allah untuk mengembannya, maka wajiblah kita memelihara keterpercayaan itu dengan mensyukurinya, merawatnya dan menjaganya. Penekanan amniah di sini terletak pada bagaimana kita menjalankan amanah.
  2. kitmaan al asraar (menyembunyikan rahasia). Sesuatu yang bersifat rahasia berarti tidak diinginkan untuk dipublikasikan. Sedangkan yang menjadi amanah bagi kita adalah rahasia kita, maka seyogianyalah kita menyembunyikan amanah kita, rahasia kita. Meskipun amanah itu adalah hal yang baik, kita tetap berhati-hati dalam menjaganya. Karena sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu dipandang baik oleh orang lain. Penekanan amniah di sini adalah untuk tetap berhati-hati dalam menjaga rahasia kita.
  3. ‘adam al ghaflah (meniadakan sifat lalai). Memegang amanah adalah salah satu upaya untuk melatih diri agar tidak lalai. Tidak dipungkiri bahwa manusia sering kali berbuat silap. Kesilapan ini jika berkelanjutan akan membuat lalai. Begitu pula kalau kita senantiasa silap dalam menjaga amanah, maka akan lalailah dalam menjalankan amanah-amanah lainnya. Dampak kelalaian ini bisa jadi bom waktu bagi kehancuran diri sendiri, atau bahkan merambah saudara yang lain (si pemberi amanah atau orang lain), yang tidak layak menderita karena kelalaian pribadi. Maka menjaga amanah ini adalah sebagian dari pelatihan diri kita agar tidak lalai, tetap istiqamah menjaga amanah.

tentang contoh2 amniah yang saya temukan, lebih banyak membahas tentang point yang kedua, yaitu menjaga rahasia.

Kata-kata berikut saya lupa mencatat apakah hadist atau riwayat :

Jaga rahasiamu, jangan kau beberkan kepada siapapun, hatta kepada isteri dan anak-anakmu. Karena tak menutup kemungkinan mereka akan memberitahukannya kepada orang lain meskipun mungkin tujuan mereka baik,

Intinya:
Pertama: Pentingnya berhati-hati dalam menjaga rahasia dari orang yang ingin memperolehnya. Dan sekedar tahu, kata-kata as-sirr (rahasia) disebut di dalam Al-Quran sebanyak 32 kali dengan ungkapan berbeda-beda.

Kedua: Boleh menjatuhkan hukuman yang menimbulkan efek jera kepada orang yang melampaui batas, dalam rangka menghentikan perbuatan dzalim di muka bumi. Sebab Alloh juga menghukum setan yang bertindak melampaui batas, yaitu ketika ia membocorkan rahasia-rahasia langit, dengan langsung membunuhnya menggunakan bintang-bintang langit yang selalu mengintai. Begitu juga, memberitahukan dan menyebar luaskan rahasia adalah perbuatan buruk, itu tidak boleh dilakukan kecuali terpaksa (darurat) dan sangat mendesak yaitu ketika ada maslahat yang lebih besar daripada jika rahasia itu disimpan. Jika menjaga rahasia adalah wajib, maka menyebarkannya adalah haram, karena akan menimbulkan bahaya, sementara memunculkan bahaya itu dilarang secara syar‘i dan merupakan pelanggaran janji, Alloh mengharamkan khianat, serta melanggar janji. Dan dalam rangka menjaga rahasia, para Ulama memperbolehkan berbohong agar rahasia itu tidak diketahui orang.

Orang yang tidak bisa menjaga rahasia dan bersikap acuh ketika rahasia itu tersebar, pada dirinya ada tiga sifat tercela:

  1. Hatinya sempit dan kesabarannya kurang.
  2. Lengah dari sikap waspada yang seharusnya dimiliki setiap orang yang berakal, mengesampingkan sikap awas yang seharusnya dimiliki oleh orang yang cerdik. Orang seperti ini sebenarnya adalah orang yang dungu dan bodoh.
  3. Ia melakukan sebuah tindakan bahaya dan penuh resiko yang tidak ia sadari akibatnya.

Oleh karena itu, terdapat ancaman sangat keras terhadap perbuatan menyebarkan rahasia.

Berikut ini adalah contoh-contoh dari Sunnah Nabi dan para Salafus Sholeh dalam menjaga rahasia:
1. Ketika Umar bin Khothob mengangkat Qudamah bin Madh‘un sebagai gubernur pengganti dari Mughiroh, ia memerintahkannya untuk tidak memberitahu siapapun. Ketika itu Qudamah tidak punya bekal (untuk berangkat menunaikan tugas), maka isterinya pergi ke rumah keluarga Mughiroh, ia berkata: “Pinjamilah kami bekal untuk seorang musafir, sesungguhnya Amirul Mukminin telah mengangkat suamiku sebagai gubernur Kufah.” Mendengar itu, isteri Mughiroh memberitahu suaminya. Maka Mughiroh datang kepada Umar dan meminta izin untuk masuk menemuinya, lalu ia berkata: “Anda telah mengangkat Qudamah sebagai gubernur, dan sungguh dia adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” Umar bertanya: “Siapa yang memberitahumu?” Ia berkata: “Wanita-wanita Madinah, mereka memperbincangkan hal itu.” Maka Umar berkata: “Pergilah dan cabutlah ikatan janji dari Qudamah.” (Muhaadhorootu `l-Udabaa’i tulisan Al-Ashfahani, juz I hal. 75)
2. Ketika Nabi Muhammad berniat untuk menaklukkan Mekkah, beliau menyuruh Aisyah untuk menyiapkan perbekalannya. Ketika tengah sibuk menyiapkan bekal, tiba-tiba ayahnya, Abu Bakar, masuk ke rumahnya. Ia bertanya: “Puteriku, apakah Rosululloh menyuruhmu menyiapkan perbekalannya?”
“Iya,” jawab Aisyah.

“Ke manakah beliau hendak pergi?”“Demi Alloh aku tidak mengerti.” kata Aisyah.
Beberapa saat setelah itu, Nabi n mengumumkan kepada orang-orang bahwa beliau hendak menuju Mekkah dan memerintahkan mereka untuk bekerja keras dan bersiap-siap, kemudian berdoa:
اَللَّهُمَّ خُذِ الْعُيُوْنَ وَاْلأَخْبَارَ عَنْ قُرَيْشٍ حَتَّى نُبْغِتُهَا فِيْ بِلاَدِهَا
“Ya Alloh, cegahlah mata-mata dan sumber-sumber pemberitaan dari kaum Quraisy sampai kami kejutkan mereka di negeri mereka.”
Akan tetapi Hatib bin Abi Balta‘ah menulis surat kepada orang-orang Quraisy memberitahukan hal itu. Ia mengirim surat itu bersama seorang wanita dan memberinya hadiah. Wanita itu menyembunyikan surat tadi dalam gelungan kepalanya dan Hatib bertindak begitu jauh. Ketika itu Umar mengusulkan agar dia dibunuh, akan tetapi Nabi memaafkannya karena dia termasuk pengikut perang Badar. Terkait dengan peristiwa ini, turunlah firman Alloh Ta‘ala:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rosul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Alloh, Robbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang padahal Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mumtanahah: 1)
3. Nabi dan Abu Bakar pernah pergi ke daerah Badar dan bertemu seseorang di tengah perjalanan, keduanya bertanya kepadanya tentang berita-berita mengenai kaum Quraisy. Dari orang ini juga mereka berdua tahu posisi kaum Quraisy. Tatkala memberi syarat bahwa ia harus tahu dari kabilah mana mereka berdua, maka Nabi menjawab: “Terakhir, kami dari air,” lalu keduanya pergi sementara lelaki itu kebingungan memikirkan nasab atau arah yang disebutkan Nabi tadi.
4. Apabila hendak pergi berperang, Nabi n menyamarkan, seolah-olah hendak menuju ke tempat lain (ber-tauriyah), misalnya ketika hendak berangkat ke perang Hunain beliau bersabda: “Bagaimana jalan menuju Nejed? Bagaimana kondisi airnya? Siapakah musuh yang ada di sana.”  Beliau pernah bersabda: “Perang adalah tipu daya.”
Masih banyak lagi kisah tentang pentingnya menjaga rahasia yang diajarkan oleh Rasulullah, intinya kita tidak boleh sembarangan membicarakan sesuatu berita pada orang lain yang tidak perlu tahu. Karena mungkin akan membahayakan seseorang atau sekelompok orang terutama dalam dakwah seperti yang dikisahkan pada jaman Rasul.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar cerita dari rekan ataupun sahabat tentang diri mereka dan juga orang lain. Sadar atau tidak, sebenarnya cerita-cerita tersebut menjadi amanah buat kita. Karena dipandang sebagai amanah, itu menjadi rahasia yang harus dijaga.

”Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.” (HR At-Turmudzi).

Setiap cerita yang sampai kepada kita pada dasarnya semua adalah amanah. Tak hirau apakah itu benar atau salah. Keduanya harus dirahasiakan, dalam arti tidak memberitahukan kepada orang yang tidak berhak untuk mengetahuinya.

Apalagi, jika cerita itu menyangkut hal negatif. Jika cerita itu benar, berarti itu merupakan suatu aib. Tentu, ia akan merasa malu manakala orang lain mengetahuinya. Maka dari itu, kita diperintahkan untuk tidak menyebarluaskan aib saudara kita.

Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat kelak.” (HR Ibnu Majah).

Adapun jika cerita itu tidak benar, berarti itu adalah kebohongan. Membicarakan tentangnya sama saja kita telah menyebarkan berita dusta. Dan, ini adalah bentuk pengkhianatan yang paling besar. Karena, kalau pun benar adanya, ia disebut berkhianat sebab ia menceritakan apa yang seharusnya tidak diceritakan. Apalagi kalau tidak benar adanya.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda, ”Khianat terbesar adalah ketika engkau membicarakan saudaramu perkara yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, padahal baginya dirimu adalah pembohong.” (HR Bukhari).

Oleh karenanya, untuk menghindari terbuka pintu-pintu dosa dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat lidah, lebih baik memilih diam daripada harus terjebak pada dusta. Inilah cara menjaga rahasia tersebut. Dan, orang yang tidak bisa menjaga rahasia, hakikatnya telah terhimpun tiga tanda kemunafikan dalam dirinya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Tanda orang munafik ada tiga; Jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkari, dan jika dipercaya ia khianat.” (HR Bukhari).

Jadi dalam kehidupan sehari2pun kita diminta untuk menahan diri untuk tidak sembarang berbicara..

kelompok ngaji itu rahasia

“ada amniah dalam gerakan dakwah kita. sesuatu yang aurat. sebagian boleh untuk umum, sebagian untuk jundi (saja), sebagian hanya untuk qiyadah (saja), sebagian untuk kelompok ngaji saja dan bahkan ada sebagian yang ortu dan pasangan hidup kita tidak boleh tahu.”
itu adalah pesan dari guru ngaji ana, pesan yang hampir diulang setiap waktu dan salah satu yang masuk kategori amni tersebut adalah anggota ngaji yang sekelompok dengan kita.

Ana teringat dulu, ketika kami sedang berkumpul memulung ilmu dan hikmah… tiba2 ada seorang ikhwah datang bertamu. tiba tiba, guru ngaji ane menyuruh kami bersembunyi ke dalam rumah supaya sang tamu tidak dapat melihat, siapa siapa saja yang masuk dalam kelompok tersebut.

kenapa harus begitu ? kok kesannya begitu kaku… bahkan cenderung menakutkan, seolah olah sesuatu yang buruk akan terjadi apabila orang lain mengetahui dengan siapa kita ngaji dan siapa saja yang sekelompok dengan kita.
pertama, Sebab kita harus belajar untuk memegang amniah. mulai dari hal hal yang terkecil. jika menjaga kerahasiaan nama guru ngaji atau anggota sekelompok saja tidak becus, lalu bagaimana nanti jika harus memegang sebuah amniah yang lebih besar ?
kedua, Hal tersebut untuk menghindari penyakit hati. terkadang ikhwah terjebak pada aktivitas “membandingkan” antar guru ngaji atau antar kelompok. tentu itu tidak ahsan, setiap guru ngaji memiliki metode masing masing dalam mendidik mutarobinya. ada yang tegas, ada yang easy going, dsb. hal tersebut tidak sepantasnya menjadi pembicaraan apalagi sampai dibandingkan mana yang lebih baik.
ketiga, Sebab tingkatan ngaji satu ikhwah dengan ikhwah yang lainnya itu berbeda. ada banyak orang yang terjebak untuk membicarakan materi dalam liqo, akhirnya di kalangan (afwan) pemula, sering muncul pertanyaan ” koq saya belum pernah dapat materi itu ya? ” atau koq bisa sih dia itu sekelompok dengan si anu. lagipula perkembangan ngaji seseorang berbeda beda, ada banyak kasus… seorang murobbi disatukan dengan mutarobbinya dan hal tersebut tak jarang menjadi gunjingan di kalangan ikhwah.
keempat, Sebab, gerakan kita selalu diawasi oleh musuh Allah. karena itu jangan pernah memberikan informasi sekecil atau seremeh apapun pada musuh Allah. sebab di tangan musuh, info seremeh apapun bisa menjadi senjata yang mematikan.
maka, mari belajar untuk memegang amniah sekecil apapun itu.  sedapat mungkin kita menjaga, nama nama ikhwah yang sekelompok dengan kita, menjaga sudah sampai mana jenjang kita dan menjaga, siapa saja yang menjadi murobbi kita (dari awal ngaji sampe hari ini).
jangan mudah menyebutkan, saya sekelompok dengan si anu, si anu dan si anu, guru ngajinya teteh/ibu anu, kami ngaji setiap hari anu dan di tempat anu. atau bahkan memberikan foto foto dokumentasinya. Atau kalau kita sudah mengisi, tak perlu menyebutkan sudah mengisi di anu pada orang2 yang tidak perlu mengetahuinya.

kita harus menahan diri, terutama di dunia maya untuk tidak mengumbar aurat dan amniah dakwah. sebab sekali lagi, musuh Allah akan selalu mencari celah celah informasi.

terakhir. pernahkah terbersit pertanyaan dalam benak kita ? kenapa para mujahid (misalnya) HAMAS banyak yang memakai penutup wajah. atau jajaran pemimpin HAMAS dan IM selalu dirahasiakan baik orang, profil maupun tempat tinggalnya ? sebab itu adalah bagian dari keamniahan dakwah.

Sumber :

  1. http://ianaja.multiply.com/journal/item/78
  2. http://thoriquna.wordpress.com/2011/01/06/kitman-dan-kerahasiaan-bag2/
  3. Site2 lain yang lupa saya catat.. mohon maaf bila ada yang tidak saya cantumkan

Bahan Kultum tanggal 24 Mei 2011

Puisi untuk Sahabat

Terima kasih atas semangatnya ukhti

 

Ukhti, tahukan engkau ?

lebih dari 1 dasa warsa ana telah kenal dengan taklim pekanan

tapi selama itu, ana tidak pernah merasa menjadi bagian dari jama’i ini

Kadang ana merasa terpaksa untuk datang karena tidak enak dengan teman

Kadang ana merasa terpaksa ikut kegiatan karena tidak enak dengan si mbak murrobbi

 

Ukhti, tahukan engkau ?

Bahkan dulu ana sempat hampir lepas dari jama’i.

Banyak sekali alasan yang ana kambing hitamkan,

sibuk belajar waktu masih kuliah, sibuk ngajar waktu sudah bekerja..

lebih dari 4 tahun ana gak ikut pertemuan rutin ini…

 

Alhamdulillah, Allah masih sayang dengan ana..

Melalui murrobbi pertama ana, ana kembali ikut mengaji..

Meski tertatih, ana masih bisa bertahan.

mengejar ketinggalan disela kesibukan duniawi.

 

Alhamdulillah, Allah kemudian memberikan ana jalan untuk sekolah

Setelah hunting sekolah, baik didalam maupun diluar.. Allah memberikan jalan terbaik bagi kami

Disini, ana menemukanmu ukhti,

Muslimah-muslimah yang penuh semangat,

Meski kesibukan silih berganti datang, meski ujian silih berganti menjelang

Semangat kalian, bagi ana seperti kobaran api.. (**hehehe lebay ya..)

Kobaran api itu telah menularkan kehangatan pada ana..

Kehangatan untuk ikut bersemangat mencari ilmu Allah..

 

Terima kasih ukhti atas semangatnya..

Ana tahu, tidak lama lagi kita akan berpisah,

mungkin dalam hitungan bulan atau hitungan tahun

entah itu perpisahan didunia, atau pulang kembali ke habitat awal kita.. (pulang kampong nih.. hehehe)

 

Tapi satu yang ana akan tetap ingat

Semangat ukhti sekalian untuk selalu mencari ilmu Allah

Semoga kobaran semangat itu tetap akan menghangatkan ana dan ukhti sekalian

dalam berlomba-lomba mencari ilmu Allah

Dan semoga kita akan dipertemukan kembali di surga ALLAH

Aamiin..

Terapi Penyakit Hati

Source Picture

 

Penyakit hati disini maksudnya bukan penyakit yang ada di hati kita secara fisik, tapi hati yang dimaksud adalah sumber dari kepribadian kita, pemimpin dan pengarah seluruh perilaku keseharian kita dan tempat hidupnya jiwa kita. Sehingga terapi penyakit hati bisa berarti terapi penyakit yang ada di kepribadian dan jiwa kita.

Sangat pentingnya terapi penyakit hati ini, sampai-sampai Rasulullah pernah mengatakan pada salah seorang sahabat, bahwa ada diantara sahabat sebut saja si fulan yang merupakan ahli surga. Sahabat akhirnya menyelidiki apa saja yang telah dilakukan si fulan. Tapi ternyata, amalan yang dilakukan si fulan, sama seperti yang biasa dilakukan para sahabat. Malam hari, si fulan juga tidur, kemudian bangun sebelum fajar untuk melakukan sholat malam, sama seperti para sahabat. Akhirnya para sahabat bertanya pada si fulan apa sebenarnya yang telah dilakukan sehingga Rasulullah mengatakan bahwa dia adalah ahli surga. Si fulan berkata, saya beribadah seperti biasa, namun mungkin ini yang membedakannya. Setiap malam, saya selalu bermuhasabah, memohon ampun dan membersihkan hati dari iri, dengki dan amarah, serta memaafkan semua kesalahan orang padanya. Point menghilangkan penyakit hati ini lah ternyata yang akhirnya membawa si fulan menjadi ahli surga.

Beberapa ayat-ayat tentang hati adalah :

- Qs. Albaqoroh : 10

- Qs. Al Hajj : 53

- Qs. Al Muddatsir : 31

Hadist tentang hati, saya tidak mencari detil kalimatnya, tapi intinya seperti berikut :

  1. Dalam diri manusia, ada segumpal daging, bila dia baik, baik pula dirinya (HR. Bukhari&Muslim)
  2. Dosa itu ibarat setitik noda hitam dihati, bila noda itu tidak cepat dibersihkan, maka noda tersebut akan bertambah banyak dan lekat, sehingga hati itu lama-lama akan menjadi hitam kelam.

Sumber penyakit hati :

  1. Kufur, nifaq, fasiq, dan bid’ah
  2. Kemusrikan dan riya
  3. Cinta kedudukan dan kepemimpinan
  4. Dengki dan hasad (iri)
  5. Ujud (merasa paling hebat)
  6. Keterpedayaan (qhurur)
  7. Sombong (takabur)
  8. Kebathilan
  9. Buruk sangka
  10. Cinta dunia dan takut mati (wahay)
  11. Mengikuti hawa nafsu

Usahakan secepat mungkin, untuk membersihkan hati, sebab bila tidak dibersihkan, lama-lama Allah SWT akan mematikan hati kita. Bila hati telah dimatikan maka suatu maksiat seperti terlihat tidak ada artinya, sehingga orang tersebut sudah tidak bisa membedakan mana yang maksiat mana yang tidak..

Obat penyakit hati :

  1. Alquran dan Assunnah
  2. Tidak banyak bicara
  3. Menjaga emosi dan nafsu à dapat dilatih dengan berpuasa
  4. Selalu mengingat Allah dengan cara zikrullah, sholat dan tilawah
  5. Bergaul dengan orang yang sholeh

Sarana mensucikan hati :

  1. Sarananya utamanya adalah sholat
  2. Zakat dan infak untuk mengikis jiwa yang kikir
  3. Puasa untuk mengendalikan
  4. Haji
  5. Tilawah quran
  6. Zikir
  7. Tafakur
  8. Mengingat kematian dan pendek angan2
  9. Muraqobah, muhasabbah, mu’ahaddah dan mu’aqqodah
  10. Amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad
  11. Pelayanan dan tawadhu
  12. Mengetahui pintu2 masuk syaitan

Note : Catatan dari mengikuti Jalasa Ruhiyah tadi pagi tentang terapi penyakit hati.

al wala wal baraa (bag 1)

materinya malem ini adalah tentang al wala wal baraa (bagian 1)..

sumbernya adalah dakwatuna: http://www.dakwatuna.com/2009/loyalitas-dalam-islam/

dakwatuna.com - Bukti keimanan seseorang adalah adanya amal nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh karena iman bukan sekadar pengakuan kosong dan “lip service” belaka, tanpa mampu memberikan pengaruh dalam kehidupan seorang Mukmin. Selain merespon seluruh amal islami dan menyerapnya ke dalam ruang kehidupannya. Seorang Mukmin juga harus selalu loyal dan memberikan wala’-nya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia harus mencintai dan mengikuti apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh perbuatan yang dilarang. Perhatikan firman Allah berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-Maa`idah: 54-55)

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya,’ jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 31-32)

Di sisi lain, seorang Mukmin tidak boleh loyal dan cinta terhadap musuh-musuh Islam. Oleh karenanya, dalam beberapa firman-Nya, Allah mengingatkan orang-orang beriman tentang hal ini.

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran: 28)

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka, janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (an-Nisaa`: 89)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maa`idah: 51)

Oleh karena itu, setiap Muslim harus memahami dengan baik tentang konsep al-wala’ dalam perspektif Islam.

Definisi

Secara etimologi, al-wala’ memiliki beberapa makna, antara lain ‘mencintai’, ‘menolong’, ‘mengikuti’ dan ‘mendekat kepada sesuatu’. Ibnu al-A’rabi berkata, “Ada dua orang yang bertengkar, kemudian pihak ketiga datang untuk meng-ishlah (memberbaiki hubungan). Kemungkinan ia memiliki kecenderungan atau wala’ kepada salah satu di antara keduanya.”

Adapun maula memiliki banyak makna, sebagaimana berikut ini.

“Ar-Rabb, Pemilik, Sayyid (Tuan), Yang Memberikan kenikmatan, Yang Memerdekakan, Yang Menolong, Yang Mencintai tetangga, anak paman, mitra, atau sekutu, Yang Menikahkan mertua, hamba sahaya, dan yang diberi nikmat. Semua arti ini menunjukkan arti pertolongan dan percintaan.” (Lihat Lisanul-Arab, Ibnu Mandzur, 3/985-986)

Selanjutnya, kata muwaalah adalah anonim dari kata mu’aadah ‘permusuhan’ dan kata al-wali adalah anonim dari kata al-aduw ‘musuh’. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (Muhammad: 11)

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 45)

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Dalam terminologi syariat, al-wala’ bermakna penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhai Allah, berupa perkataan, perbuatan, keyakinan, dan orang (pelaku). Jadi, ciri utama orang Mukmin yang ber-wala’ kepada Allah SWT adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Ia mengimplementasikan semua itu dengan penuh komitmen.

Kedudukan Aqidah Wala’

Akidah al-wala’ ini memiliki kedudukan yang sangat urgen dalam keseluruhan muatan Islam.

Pertama, ia merupakan bagian penting dari makna syahadat. Maka, menetapkan “hanya Allah” dalam syahadat tauhid berarti seorang Muslim harus berserah diri hanya kepada Allah, membenci dan mencintai hanya karena Allah, lembut dan marah hanya kepada Allah, dan ia harus memberikan dedikasi maupun loyalitasnya hanya kepada Allah.

“Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’aam: 162)

“Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Allah telah menurunkan) kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (an-Nahl: 30)

Kedua, ia merupakan bagian dari ikatan iman yang kuat. Rasulullah saw. bersabda,

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR Ahmad dalam Musnadnya dari al-Bara’ bin ‘Azib)

Ketiga, ia merupakan sebab utama yang menjadikan hati bisa merasakan manisnya iman. Rasulullah saw. bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga hal yang apabila seseorang mendapatkan dalam dirinya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasulnya lebih ia cintai daripada dirinya sendiri; hendaklah ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah; hendaklah ia benci kepada kekufuran seperti bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka setelah Allah menyelamatkannya daripadanya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Keempat, ia merupakan tali hubungan di mana masyarakat Islam dibangun di atasnya.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10)

Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah saudaramu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR Ahmad dalam Musnadnya)

Kelima, pahala yang sangat besar bagi orang yang mencintai karena Allah. Rasulullah saw. bersabda,

الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ

“Orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku (Allah) akan berada di atas mimbar dari cahaya pada hari kiamat di mana para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi)

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, di mana pada hari itu tiada naungan kecuali naungan-Nya. (Di antara mereka) adalah dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.” (HR Muslim)

Keenam, perintah syariat untuk mendahulukan akidah al-wala’ ini daripada hubungan yang lain.

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)

Ketujuh, mendapatkan walayatullah.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)

Kedelapan, akidah ini merupakan tali penghubung yang kekal di antara manusia hingga hari kiamat. Allah berfirman,

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” Al-Baqarah:166.

Fikih Nazar

Setelah 2 minggu absen karena pulkam, akhirnya malem minggu ini kami ke kulai lagi. 2 minggu ini, adek2 diisi bergantian oleh bu ita dan bu qonita. sukron bu atas bantuannya.

materi malam ini tidak terlalu berat. sengaja saya selang-seling biar mereka gak bosen. perkembangan hapalannya tidak terlalu bagus. karena mereka sudah tidak setor hapalan selama 2 minggu katanya. jadi akhirnya kebablasan..

mereka juga cerita bahwa jadwal istirahat mereka berubah, yang tadinya 3x sehari menjadi 2x sehari. akibatnya jadwal makan mereka berubah.. makanya banyak yang sakit.. jadi timbul gejala maag semuanya. Saya hanya sarankan supaya mereka membawa makanan kecil dikantong. supaya perut selalu terisi. sebab mereka jauh dari keluarga. kasihan kalo sampai sakit.. mudah2an diberi kemudahan..

oiya, saya sempet bawa pempek dan kemplang, oleh2 dari palembang. dan ternyata mereka juga membuat rujak mie untuk makan malam ini.. klop lah..:-)

Materi malam ini tentang : fikih nazar

kandungan syahadah

Materi diberikan di kulai pada tanggal 22 januari 2011

 

 

kandungan syahadah

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.